MPASI Diary : Day 12

Standar

 
Hari ke 12, agak mulai bingung emaknya mau bikinin apa lagi. Karena bapaknya sebelumnya request bikin es kweni buat bukaan akhirnya pas di supermarket sekalian beli mangga dan kepikiran bikin puree mangga buat dicobain ke si anak kecik 🙂

Saya pake mangga arummanis soalnya seratnya lebih sedikit dari mangga jenis lainnya dan rasanya lebih manis tentunya.

Persiapan jadi lebih mudah, tinggal kupas, potong-potong, blender dan saring.

Awalnya pas ditaruh meja makannya sih ekspresinya kayak underestimate dan nggak yakin itu enak apa nggak gitu sih. Cuma setelah disupin dan ngerasain rasanya baru senyam-senyum deh.

Puree mangganya enak *ibunya aja suka :p * dan habis tak bersisa sampai dijilatin mangkoknya pas habis.

Observasi : bab lancar dan bau khas mangga 🙂 *bau aja ya bukan rasa*  

Iklan

MPASI Diary : Day 11 

Standar

 
Hari ke 11, nyobain puree dari umbi umbian dan hari ini bikin puree beet root atau buah bit.

Baca dari beberapa sumber sih buah ini kaya akan mineral dan vitamin dan baik untuk bayi. Bit nya saya kukus dulu baru saya blender dan saring.

Warnanya sih menarik hati merah merona, cuma sayangnya Keenan ternyata nggak begitu doyan. Beberapa suap langsung manyun bibirnya, biasanya seporsi puree selalu dilahap habis, kali ini cuma 1/2 bagian dihabisin kemudian sering dilepehin dan buang muka. O iya pas manyun bibirnya jadi kayak pake lipstick gitu ya hahaha.

Observasi : meski cuma makan 1/2 bagian ternyata bit ini bikin lancar pencernaan, tapi jangan kaget ya setelah makan puree ini pup-nya juga jadi merah tua, tapi normal kok 🙂

MPASI Diary : Day 10 

Standar

 
Hari ke 10 bikin puree pear xiang lie, kemarin sempat baca dari beberapa group MPASI rumahan bahwa buah ini cenderung berefek laksatif. Akhirnya dicobain buat Keenan sebagai alternatif pencahar alami selain puree apel.

Caranya hampir sama seperti bikin puree apel, dikukus dulu, diblender kemudian disaring. Kebetulan pas lagi nggak puasa saya icip-icip puree-nya ternyata rasanya dominan manis, lebih manis ini daripada puree apel *ntar kalau nggak habis ibu mau juga kok nak hehehe*

Dan prediksi meleset, jangankan ada sisa, orang kalau suapannya telat aja langsung jilatin meja :p 

Itu puree cuma tinggal mangkok dan sendok aja bersisa.

Observasi : bener memang efeknya laksatif, pup jadi lancar jaya dan nggak keras.

MPASI Diary : Day 9

Standar

 
Hari ke 9, Keenan mulai saya kenalkan protein nabati. Pilihan jatuh pada edamame, selain lebih empuk juga ngupasnya lebih gampang dari kedelai lokal. Saya kupas duluan dari kulitnya baru saya kukus soalnya lebih cepat. Setelah dikukus baru diblender dan disaring.

Bau edamame ini khas banget, harum menggugah selera dengan warna yang menarik serta teksturnya lebih sedikit kental dan padat, jadi saya tambahkan air sedikit biar teksturnya pas untuk tekstur semi kental.

Benar saja, Keenan langsung suka. Dia sendokin sendiri dan masukin ke mulut, setelah itu tertawa-tawa, mungkin karena berasa enak dan suka kali ya 🙂

Puree edamame dilahap habis, dan setelah makan langsung ngantuk :p

Observasi : Setelah makan edamame, bab mulai lunak dan lancar.

MPASI Diary : Day 8

Standar

  

Yeayyyy, nggak terasa udah semingguan petualangan makan anak kecil dimulai. Dari semingguan ini bapak dan ibunya bersyukur sekali Keenan nggak susah makan, apapun jenis puree yang dibuatin ibunya habis dilahap.

Nikmat yang tak pernah sanggup kami dustakan lihat anak lahap makan dengan ceria, tanpa paksaan dan tanpa drama 🙂

Hari ke delapan kembali ke menu buah, puree pepaya jadi pilihan *soalnya kalau besok pepayanya udah terlalu matang*.

Persiapannya cukup mudah dan lebih cepay soalnya tanpa kukus-mengukus, cuma tinggal potong-potong, masukan blender dan saringan kawat jadi dehhh.

O iya karena hari ini ditinggal kuliah bapaknya Keenan seharian sampai menjelang magrib, puree untuk sore saya siapkan sekalian, dari hasil terakhir saringan kawat saya bagi 2. 1 bagian langsung dimakan dan 1 bagian saya simpan di kulkas untuk makan nanti sore.

Nyendokin sendiri dari mangkok, dan agak geli geli waktu pertama makan. Tapi suka dan doyan banget sampai habis bis bis, bahkan mangkok kosongnya pun masih dijilatin dan masih nyariin sisanya :p

Observasi : pup sedikit konsistensi semi padat namun masih lunak, anak tidak kesusahan buang air besar.

MPASI Diary : Day 7 

Standar

  

Hari ketujuh kembali ke puree dari sayur, karena masih ada wortel di kulkas akhirnya dibuatin puree wortel aja. Saya kebetulan pakai wortel impor karena warna merah orange yang lebih menarik.

Seperti biasa wortel dikupas dan dipotong kecil, dikukus dan diblender kemudian disaring, sesuaikan tekstur puree dengan menambahkan sedikit air matang.

Waktu awal mangkoknya dideketin ke meja, Keenan langsung penasaran dan coba nyendok sendiri. Saya biarkan karena memang mau saya latih BLW, walaupun agak berantakan dan tumpah-tumpah di bip, setidaknya anak belajar penggunaan sendok dan mulai belajar makan secara mandiri. Meski begitu tetap saya pandu dan saya suapin kalau Keenan sudah mulai bosan nyendok sendiri dan ngamuk karena makanan yang masuk ke mulut tidak secepat kalau disuapin ibunya 😀

Tengah makan sempat ngamuk karena ngantuk, saya simpan dulu pureenya dan lanjutkan lagi setelah dia bangun. Bangun tidur selera makannya kembali lahap dan puree wortel juga tandas habis tak bersisa.

Observasi : pup lancar dengan frekuensi seperti biasa sehari sekali dengan konsistensi lunak.

MPASI Diary : Day 6 

Standar

  

Hari keenam MPASI nyobain puree dari pisang cavendish, sebenernya pisangnya boleh dari pisang apa aja kok yang penting nggak mentah aja 😀

Beberapa bayi mungkin lebih suka kalau pisangnya dikerok halus aja, tapi beberapa bayi juga lebih suka kalau dibuat puree. Karena biasa dengan tekstur puree akhirnya Keenan saya buatin puree aja.

Pisang dikupas kulitnya dan dikerok bagian pinggir-pinggirnya, saya pakai bagian pinggir karena lebih halus daripada bagian tengah. Seperti biasa saya blender dahulu kemudian saya saring di saringan kawat halus.

Bentuk akhirnya memang agak berbeda dengan puree-puree sebelumnya, puree pisang ini sedikit agak lengket dan berlendir. Waktu pertama saya cobain ke Keenan responnya sedikit lambat, biasanya suapan demi suapan lancar jaya, kali ini agak lama dan berjeda. Beberapa suapan saya minumin air putih, begitu berulang sampai suapan terakhir. Meski kurang begitu suka, tapi seporsi puree pisang pun akhirnya habis juga 😀